| Setelah mengalami
kegagalan akhirnya ia diterima disebuah sanggar seni seorang seniman ternama bernama
Toyohiro, waktu itu ia berumur 15 tahun. Gurunya segera mengetahui bakat si anak yang luar
biasa dan wataknya yang lurus, sehingga ia mempercayakannya sebuah nama yaitu Hiroshige.
Hiroshige yang terdiri dari dua huruf Kanji (aksara Han Tiongkok), huruf pertamanya
diambil dari namanya sendiri dan yang kedua dari nama si anak. Tak lama kemudian, si anak
menerbitkan hasil karya seni perdananya. Waktu itu ia baru berumur 16 tahun.
Dari tahun 1780 sampai dengan tahun 1800 merupakan zaman keemasan
kesenian Ukiyo-e dimana banyak seniman terkenal seperti Hokusai, Utamaro dan gurunya
sendiri saling bersaing menyempurnakan seni aliran ini. Seni lukisan Ukiyo-e (genre
paintings) adalah lukisan berdasarkan kejadian sehari-hari. Namun seperti yang terjadi di
negara Eropa, seni hanya disajikan untuk dan dinikmati oleh kalangan elit dari masyarakat
Edo. Oleh karena itu, tema lukisan berkisar kehidupan para bangsawan atau figur wanita
selebriti sedangkan lukisan pemandangan dengan aktivitas rakyat kurang diminati.
Namun di periode Edo berikutnya yang disebut periode kemunduran
terjadi populerisasi-an seni ke masyarakat luas sehingga terjadi kelonjakan permintaan
atas barang seni. Periode kemunduran yang berkaitan dengan depresi ekonomi (rupanya ada
juga krismon di zaman itu!), menyebabkan segala percetakan harus dilakukan dalam jumlah
besar untuk mencapai "economic of scale". Sehingga satu-satunya cara adalah
memasarkan hasil seni kepada masyarakat luas dengan harga terjangkau.
Hiroshige yang berkarya di periode ini mendapat berkah tambahan
karena bukan saja ia berbakat lebih dari itu tema lukisannya merakyat. Dalam
lukisan-lukisan 53-Tahapan Tokaido misalnya ia menggambarkan aktivitas masyarakat Edo yang
gemar berpergian mengunjungi tempat-tempat termasyhur dan tempat suci untuk beribadah
walaupun harus menempuh perjalanan yang jauh (ingat belum ada mobil atau kereta api!).
Oleh karena itu, Hiroshige juga dikenang sebagai seniman yang banyak andil dalam
merakyatkan seni ke masyarakat Jepang.
Menurut perputaran kehidupan kosmik yang menggariskan kehidupan
manusia atas dasar perputaran 60 tahun (sexagenary cycle), mencapai umur 60 tahun adalah
waktu bagi seseorang memikirkan apa yang telah ia capai dan menatap kehidupan berikutnya.
Dan kiranya itupun yang mungkin terlewat dalam benak si anak genius. Setelah berkarya seni
sepenuhnya, Hiroshige meninggal dengan tenang di umur 62. Ia dikebumikan di vihara
Togakuji yang terkenal di kota Edo (sekarang Tokyo).
|